.......................RUMAH TUA........................
..........aku berjanji padamu......
Hari ini gadis kecil bernama Nina baru menempati rumah baru bersama keluargaanya, disebrang jalan sejajar dengan rumahnya ada rumah tua. Saat sedang membereskan barang orang yang tinggal di rumah tersebut datang dan menghampiri keluarga Nina. Orang itu bernama pak Ahmad penjaga rumah tua itu, ia mengundang keluarga Nina datang kerumah tua itu nanti sore.
Nina bersama ayah dan bundanya datang, ayah berbincang tentang rumah tersebut
"Rumah ini dulunya kediaman orang Inggris namanya Robert, dia tinggal bersama istrinya yang merupakan keturunan Belanda dan juga tiga orang putri dan satu orang putra" kata pak Ahmad
"Lalu kenapa rumah ini sepi ya pak?" Tanya ayah
" Tuan Robert pulang kenegaraannya setelah kematian anak bungsunya, putranya satu-satunya" jawab pak Ahmad
" Putranya meninggal karena sakit ya pak?tanya ayah lagi
" Bukan pak, kejadiannya tepat 80 tahun yang lalu, putra tuan Robert namanya Albert. Dia meninggal setelah bahunya tertimpa parang dan kehabisan darah saat sampai di rumah sakit" jelas pak Ahmad
"Bagaimana bisa tertimpa parang?" Tanya ayah kembali
"saat itu keluarga tuan Robert mengadakan pesta di halaman depan dan anaknya bermain petak umpet bersama temannya, dia sudah dilarang agar tidak kehalaman belakang karena semua orang ada di depan agar tidak terjadi sesuatu. Tapi ya namanya anak-anak ya bandel, Albert bersembunyi di gudang kayu sempit dihalaman belakang, jika ia bergerak maka akan menggoyangkan dinding gudang, karena terlalu gelisah dia membuat benda yang diletakkan di tempat tinggi dalam gudang itu terjatuh, dan ternyata ada parang yang menimpa pundaknya. Albert berteriak tapi tak ada orang. Setelah acara selesai kakek saya menemukan Albert di dalam gudang dengan tubuh berlumuran darah dan melihat disampingnya ada parang. Tapi Albert meniggal dirumah sakit karena kehabisan darah dan gudang itupun di hancurkan." Terang pak Ahmad
Ayah, Ibu dan pak Ahmad asik berbincang sambil mengelilingi rumah tua.
Nina berdiri didepan piano yang ada di ruang tengah rumah tua
"kau mau aku mainkan sebuah lagu dengan piano itu" kata seseorang dari belakang Nina. Nina pun melihat kebelakang, ia melihat seorang anak laki-laki bermata hijau dan berambut coklat " kamu siapa?" Tanya Nina "perkenalkan nama saya Albert tuan putri" kata anak itu sambil membungkuk memberi hormat.
Nina tersenyum itu adalah pertemuannya dengan teman yang berarti baginya.
Albert dan Nina selalu bersama, setiap hari Nina selalu bermain di rumah tua, tidak ada yang curiga melihat keceriaan Nina, tapi keanehan mulai dirasakan orang tua Nina setelah beberapa waktu. Nina sering kali berbicara dalam bahasa Inggris dan Belanda dan dia sangat mahir bermain piano entah siapa yang mengajarinya. Nina sering bermain petak umpet bersama Alberta di rumah tua karena itu permainan favorit mereka. Karena bakat bermain piano Nina ayah dan bundanya membelikan piano, tapi Nina malah jarang memainkannya dan lebih memilih memainkan piano di rumah tua bersama Albert. Setelah tiga tahun Nina baru menyadari bahwa temannya bukanlah manusia karena Albert sama sekali tidak berubah, tapi itu tidak membuat Nina berhenti bermain dengan Albert. Tapi ternyata pertemanan mereka harus terhenti saat ayah Nina di tugaskan bekerja di Borneo, Albert marah pada Nina tapi Nina tak bisa berbuat apa-apa
Saat ia hendak masuk ke dalam mobil Nina melihat ka arah rumah tua dan melihat Albert yang berada dibalik jendela memperhatikannya "Het spijt me, dat ik beloofd om terug te komen. Tot ziens.....Albert..." Kata Nina dengan sedih *aku minta maaf, aku berjanji akan kembali. Selamt tinggal.....Albert....*
Nina menjalani harinya dengan sedih, setiap ia menyentuh pianonya mata hijau Albert selalu membayang, senyumnya, anak nakal itu membuat Nina ingin kembali, Nina ingin bertemu dengan teman beda dunianya.
Nina kembali kerumah masa kecilnya setelah 10 tahun ia tinggalkan, rumah itu terawat karena di urus dengan penjaga rumah, Nina beristirahat di kamer depan dan memperhatikan rumah tua yang ada diseberang jalan dari jendela kamarnya...
"Howdy Albert. Ik had mijn belofte gehouden. Ik keerde terug." Kata Nina
*apa kabar Albert. Aku telah menepati janjiku. Aku kembali*
Sore hari Nina datang kerumah tua, kedatangannya disambut dengan pak Ahmad "selamat datang Nina, sekarang sudah besar dan tambah cantik, pak Ahmad jadi pangling" kata pak Ahmad
"Terimakasih pak Ahmad, bapak bisa aja bercandanya. " oh ya Nina, kebetulan bapak ada urusan sebentar dirumah pak RT, tidak apa-apakan kalau bapak tinggal sebentar" tanya pak Ahmad
"Tidak apa-apa kok pak, tapi Nina pinjam pianonya ya pak" jawab Nina "silahkan Nina, bapak tinggal dulu ya" kata pak Ahmad sambil tersenyum lalu pergi
Nina pun memainkan piano, air matanya tak bisa terbendung, entah apa yang terjadi, ia merasa bodoh karena kembali berhubungan dengan teman yang kenyataanya sudah terbaring didalam tanah. Tapi ia mersa kerinduan, bukan Alberta yang pergi tapi dia yang meniggalkan Albert, Nina yakin bahwa Albert menunggunya.
"kau mau aku mainkan sebuah lagu dengan piano itu" ucap seseorang, Nina menghentikan permainan pianonya, tangannya gemetar, Nina berbalik, kejadian ini sama seperti pertemuan pertama mereka. "Kau terlalu lama pergi" kata Albert "aku menunggumu, sendiri, pak tua itu membosankan, dia hanya asik mengelap dan memotong rumput" tambahnya "Tuan putri ayo kita bermain petak umpet, tapi kali ini kau yang jaga" kata Albert dan tersenyum
"Albert aku tak pernah melupakan senyuman dan mata hijaumu, kemeja putih dan celana pendek, sepatu kulit dan kaus kaki panjangmu, semua itu sama hingga saat ini. Tapi aku minta maaf aku sudah dewasa aku tak bisa lagi bermain dan berlari. Aku akan mendengarkan permainan pianomu" kata Nina "aku akan memainkan piano itu tapi setelah kau temukan aku" kata Albert lalu menghilang. Ruangan yang sebelumnya terang sekarang tampak redup, udara dingin dengan angin yang bertiup pelan menekan batin, Nina sama sekali tak beranjak, dia masih di depan piano, "Albert aku sudah dewasa aku tak mungkin bermain lagi" seru Nina "Cari aku" "cari aku" "cari aku" suara itu terus bergemah di seluruh ruangan entah artinya Albert senang atau marah. Nina kembali memainkan pianonya dia tidak menghiraukan semua yang terjadi. Tiba tiba tuts piano bermain sendiri mengahasilkan melodi yang lirih, lalu nada piano yang seperti diamankan secara sembarang dan dipukul-pukul Nina hanya bisa terdiam dan terpaku. Ia melihat kebelakang. "kenapa kau tak mencariku" kata Albert. Tubuh Nina gemetar dia melihat sosok yang berbeda, kemeja putih itu berlumuran darah, bahu dengan luka sobek yang besar mata hiaju itu menatap dengan penuh amarah Nina berdiri kakinya melangkah perlahan dan berjalan mundur Albert terus mendesaknya. Nina sampai di dapur Albert mendorongnya hingga tersender pada dinding dan ternyata didinding itu ada parang yang tergantung, sebenarnya parang itu diikat dan tak mungkin terjatuh, tapiwntah kenapa bahu Nina terluka. Nina berteriak minta tolong sambil menahan sakit, tetangga disekitar rumah tuapun datang dan menolong Nina.
Setelah dua minggu dirawat dan mendapat jaitan Nina datang kerumah tua "Nina lebih baik kamu pulang" kata pak Ahmad "pak biarkan Nina masuk"paksa Nina "tidak bisa Nina, lebih baik kamu pulang, ayo pulanglah" kata pak Ahmad dan menutup pintu. Nina duduk dibangku teras rumah tua. Albert datang menemuinya"Nina bahuku sakit" kata Albert "aku tahu rasa sakit itu, bahuku juga sakit"kata Nina sambil tersenyum, Albert datang dengan kondisi yang sama dengan sebelumnya "maafkan aku Albert" kata Nina "tapi kau memang nakal" tambahnya "Nina maafkan aku" kata Albert "Aku yang minta maaf karena meninggalkan mu, kesepian itu sangat buruk. Kau tahu mata hijau aku sangat menyayangimu, tapi aku sekarang bukan anak kecil lagi, aku datang bukan untuk bermain tapi untuk menemani mu" kata Nina "maafkan aku Nina, tapi aku harus pergi" kata Albert.
Nina tersenyum "aku memaafkanmu, aku berharap kau tidak menyakiti orang lain, en je moed goed zijn" kata Nina *dan kau harus jadi anak yang baik*
Albert berubah menjadi seperti semula tanpa darah "ik beloof" jawab Albert *aku janji lalu ia menghilang
*selesai *
Ini cerpenku waktu smp, butuh waktu lama mencari buku kumpulan cerpen yang sudah usang hanya untuk menemukan cerita ini kembali
FB: Syela Mahliga W
IG : @syelamahliga06
Twitter: @syelamahliga
f
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 April 2017
Minggu, 24 April 2016
Azan berkumandang di setiap sudut
negeri, kaki-kaki melangkah berdiri di atas sajadah, bersamaan menegakkan
sholat, akupun telah siap disyafku menanti ayah mengimami sholatku bersama
bunda, lalu kamipun sholat berjamaah, setelah selesai sholat aku bergegas
merapikan tempat tidur lalu mandi, saat fajar tiba dimana sang mentari terbit
dari ufuk timur dan diiringi oleh kokokan ayam jantan saat itu pula aku sudah
siap dengan seragam yang rapi dan tasku, sebelum berangkat sekolah aku
menyiapkan segelas teh dan beberapa potong roti untuk sarapannya, tidak lupa
aku menyiapkan bekalku yang sebelumnya telah aku masak, setelah sarapan aku
pamit kepada ayah dan bunda dan berangkat kesokolah..
Sampai di sekolah tepat dilobby
sekolah aku berjumpa dengan kepala sekolah, seperti biasa akupun langsung
menghampiri kepala sekolahku dan menyalami tangan kepala sekolahku “Selamat
pagi pak!”sapaku “Ya pagi nak!”jawab kepala sekolah, setelah itu akupun
bergegas menaiki tangga sekolah menuju lantai tiga, aku menyusuri lorong
sekolah melangkah kekelasku.
Sesampainya di kelas aku langsung
memeriksa seragam dan buku-bukunya di dalam tas umtuk memastikan bahwa tidak
ada barang yang tertinggal, sejenakku perhatikan ruang kelasku yang masih sepi
karena aku datang telalu pagi “Serasa baru kemarin aku memakai seragam putih
merah dari bunda tapi sekarang aku sudah memakai seragam putih abu-abu, tak
terasa waktu berlalu begitu cepat” gumamku dalam hati.
Tidak lama kemudian Dony dan Andien
datang,“Pagi Taysa! Hari ini kamu datangnya pagi sekali” sapa Andien, “Pagi
juga! Ya karena hari ini aku bangunya sedikit lebih cepat” jawabku “Kamu sudah kerjakan tugas fisika dari pak
guru?” tanya Dony “Ya sudahlah? Kenapa mau lihat” tanyaku “Seperti biasa, kalau
kemarin kamu lihat tugas biologi sekarang gantian aku lihat fisika!”jawab Dony
sambil tersenyum “Kebiasaan!” ketus Andien
Waktu telah berlalu bel pertama
sekolahpun berbunyi menandakan kalau pelajaran akan segera di mulai, jam
pelajaran pertama adalah matematika, dan khusus hari ini para siswa di kelas 10
IPA akan meguras seluruh pikirannya karena mereka semua akan menghadapi ulangan
harian, kertas ulangan belum dibagikan namun terlihat jelas olehku wajah
teman-teman yang pucat seperti akan menghadapi maut. Setelah kertas ulangan di
bagikan maka sandiwarapun segera di mulai.
Beberapa siswa hanya memandang
kertas ulangannya, ada yang memegangi lembar jawaban yang masih kosong namun
lembar soalnya di tutup, bahkan ada yang tak menyentuh kertas ulangannya dan
memilih tidur diatas meja, Aku terus membaca soal-soal yang ada dikertas
ulangan tersebuat dan menuliskan beberapa jawaban. Setelah mampu manjawab
beberapa soal aku memandang kearah Andien dan Dony, mereka terlihat seperti
tidak mendapatkan kesulitan, padahal aku sudah merasa sedikit kebingungan.
“Jesica!” seru Yoona dari belakang ku, mendengar
panggilan Yoona, Jesica pun langsung menoleh, “Ya! Ada apa?” tanya jesica “Jawaban
nomor 1, 5 dan 7 apa?” tanya Yoona “ Nomor satu B, lima C, dan tujuh E, kalau
nomor tiga dan delapan apa Yoona?” bisik Jesica. Aku melihat tingkah
teman-temanku dan hanya diam meliaht meraka karena ini pemandangan yang sudah
sering terjadi bahkan sejak awal ia duduk di bangku sekolah dasar dan salah
satu alasan yang paling mendasar karena aku tidak mau di benci oleh atu kelas
hanya karena melaporkan semua kecurangan yang terjadi, saat jam pelajaran
hampir selesai para siswa membuat kelas gaduh untuk mengambil kesempatan
bertukar jawaban
Dari tahun ketahun aku mulai
mengerti itu semua adalah kebudayaan yang telah diwariskan dari dulu, sehingga
menciptakan suatu kenyattan yakni ‘mencontek ditingkatkan, curang
dipertahankan, buku ditinggalkan, masa depan gemilang jangan diharapkan’ semua
ini hanya sebagian dari kenyataan. Kunci jawaban selalu bisa dipergunaakan
dengan baik, biasanya aku melihat temanku menyelipkannya dicelah meja, jam
tangan, baju, tali pinggang, bahkan kaos kaki dan masih banyak lagi. Aku rasa
sebelum ulangan atau ujian mereka puasa dan mandi kembang agar rencana mereka
berhasil.
Seharian penuh aku menuntut ilmu
disekolah, aku seakan-akan menonton sebuah film yang sama berkali-kali, dan
akhirnya tibalah waktu pulang sekolah, aku duduk dibangku lobby bersama Andien
dan Dony “besokkan libur kamu mau kemana Tasya?”tanya Andien “aku akan kerumah
kakek” jawabku. “kalau pulang dari rumah kakekmu jangan lupa ya oleh-olehnya”
kata Dony mendengar kata-kata Dony terlihat jelas dari raut muka Andien yang
menyatakan bahwa Anien ingin segera melnyapakan Dony dari muka bumi.
Aku, Andien dan Dony baru menjalani
persahabatan sejak duduk di bangku SMA, kami adalah siswa lulusan sekolah
negeri yang sama dan sama-sama masuk sekolah swasta karen nilai akhir kami yang
tak cukup untuk masuk kesekolah negeri. Karena kesamaan dalam nasib kami sering
bersama, kami selalu membahas semua yang berhubungan tentang politik, ekonomi,
pendidikan yang ada didunia terutama diIndonesia dan semua yang berhubungan
dengan kehidupan. Jika kami bertiga sudah membahasnya maka perdebatan kami
lebih seru dari pada rapat anggota DPR.
“Kan aku cuma sehari dirumah kakek,
hari minggu pagi aku sudah pulang, lagian aku kesana karena kebetulan kakek
besok ulang tahun jadi keatangan kami sebagai sebuah kejutaan, bukannya intik liburan
semata” kataku pada Dony “Ya baiklah Tasya, jangan marah, akukan hanya
bercanda” jawab Dony. “aku hanya menjawabnya dengan senyuman, setelah beberapa
menit aku dan kedua sahabatku memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.
Hari ini dirumah aku membantu bunda
menyiapkan segala keperluan selama diperjalan, setelah semua siap aku dan bunda
menunggu ayah pulang kerja. Pukul setengan empat ayah pulang aku membantu bunda
memasukkan semua barang yang telah kami siapkan kedalam bagasi mobil sehingga
tepat pada pukul empat sore aku, ayah dan bunda langsung berangakat menuju
rumah kakek. Dan untunglah jarak kotaku tinggal dengan tempat tinggal kakek
tidak terlalu jauh sehingga kami menempu perjalan hanya dalam waktu beberapa
jam. Saat hari telah gelap kami baru tiba di rumah kakek, karena terlalu lelah
malam ini aku tidak bisa menghabisakan waktu bersama kakek dan memilih untuk
segera istirahat.
Esok paginya setelah sholat subhu
kakek mengajakku untuk megelilingi desa, kakek
membawaku kebukit dibelakan desa, perlahan langit mulai menderang, sang
mentari pun terbit, embun pagi mulai naik, gerap mulai pergi berkejaran dengan
cahaya sang mentari, dari atas bukit mataku seakan tak dapat terpejam, setelah
mentari menyinari seluruh alam, kulihat ladang hijau,padi disawah yang mulai
menguning, tampak desa kecil kakek yang dipagari oleh hutan yang rimbun, serta
sungai jerni yang megalir disisi desa. “Indah kek! Tuhan maha adil, di saat ada
tempat dimana sulit meraih kedamaian tuhan telah menyiapkan tempat lain yang
memberi lebih dari kedamaian.”kataku. Perasaanku seakan melayang terhembus
angin yang bertiup pelan.
Namun semua ketenangan yang
kurasakan langsung hilang seketika tatkala aku mengingat semua masalah yang
terjadi diIndonesia. “Kek, aku rasa tempat ini akan bernasip sama dengan
dikota, dan aku rasa dimasa depan indonesia hanya tinggal sejarah dan yang
tersisa cuma puing bangunan yang terbengkalai.”ketusku kesal “Itukan rasanya
Tasya saja, setiap orangkan berbeda, mungkin Tasya merasa pahit namun orang
lain mungkin akan merasa manis. Ayo Tasya sekarang ikut kakek” kata kakek
sembari menggandeng tanganku.
Kami berjalan menuruni bukit,
“Kakek menurut kakek apakah sikap Nasionalisme bangsa yang dimiliki oleh
orang-orang dulu akan bertahan, tapi sekarang kakek lihat, banyak sekali berita
yang menyatakan bahwa moral bangsa sudah hampir hilang sepenuhnya.” Namun kakek
hanya diam dan terus berjalan. “Kakek, Tasya hanya minta pendapat kakek, usia
kakek lebih tua dibanding usia Indonesia yang merdeka, kakek tentu tahu
bagaiman perkembangan Indonesia yang awalnya semakin maju, namun sekarang malah
sebaliknya.” Sekali lagi kakek tidak menjwab apa-apa dan terus berjalan.
“Kakek, saat ini Bangsa kita sudah terlanjur berada dalam keterpurukan menurut
kakek apa yang harus kita lakukan” tanyaku sekali lagi dan kakek tetap tak
menjawab, karena kesal akupun berhenti bertanya.
“Sudah sampai” seru kakek, kami
berhenti didepan sebuah pondok yang tepat didepannya terpampang sebuah spanduk
yang bertuliskan ‘Bubur Ayam Datuk Selamet’ meliahat spanduk itu aku
menyimpulkan bahwa rasa lapar akan membuat seseorang tidak mendengar apa-apa
dan tidak mau menghiraukan apapun “Ayo Tasya kita masuk, kamu pasti lapar” kata
kakek. Aku duduk di salah satu bangku menunggu kakek yang sedang memesan bubur,
aku melihat kakek berbisik dengan si pedagang bubur ayam, sepertinya kakek
merencanakan sesuatu.
Kakekpun datang dan meletakkan dua
mangkok bubur diatas meja, tepat dihadapanku aku hanya melihat bubur nasi putih
di dalm mangkok, “Kakek, disini memesan bubur ayamkan?” tanyaku heran, kakek
hanya tersenyum “lalu, kenapa hany bubur nasi dimana potongan ayam, bumbu,
sambal, da kerupuk pangsit, serta minyak kacang kedelainya?” tanyaku lagi kakek
tidak mau menjawab pertanyaanku.
Tidak lama kemudian sipedagang
bubur datang membawa mangkok-mangkok kecil, dan ternyata isinya bahan pelengkap
bubur “kenapa harus dipisahkan kek?” tanyaku lagi. “kakek akan menjawab
pertanyaan Tasya pa sikap yang harus dimiliki setiap orang saat Indonesia sudah
jatuh dalm keterpurukan dan krisis seperti saat ini?” jawab kakek. “Tasya tidak
mengerti maksud kakek” kataku semakin bingung
“ Indonesia ibaratkan beras, para
pahlawan mereka adalah petani yang menanam padi hingga menjadi beras, kita
generasi bangsa bertugas mengumah beras menjadi nasi, namun karena kesalahan
kita sendiri maka beras yang seharusnya menjadi nasi malah terlanjur menjadi
bubur, dan nasi yang menjadi bubur tidak akan bisa menjadi nasi kembali” Jelas
kakek, aku mulai mengerti maksud kakek sekarang.
“Baiklah, ini adalah bumbu yang
melambangkan Bhinneka Tunggal Ika, Bumbu ini terdiri dari rempah yang berbeda
baik ukuran maupun rasa, terdapat garam, gula, dan masih banyak lagi, walau
berbea namun jika di satukan akan membuat suatu makanan menjadi lezat, makanan
tidak akan lezat jika kamu hanya menambahkan satu jenis rempah, hanya garam”
kata kakek sambil mencampurka bumbu kedalam bubur “Jadi ibaratkan warga negara
Indonesia, yang berbeda baik suku maupun agama jika bersatu akan memberteguh
bangsa Indonesia, dan tidak akan bisa jika bangsa Indonesia tidak bersatu,
ibarat suku batak hanya bisa bersatu dengan yang satu suku tidak akan
mewujudkan jiwa persatuan dan keteguhan dalam suatu bangsa, benarkan kek?”
kataku sebagai bentuk pahamku
“Ya benar, potongan ayam dan kacang
kedelai ini ibaratkan kedewasaan, setelah daging ayam kacang kedelainya matang dengan proses masak
disertai bumbu maka akan menambah keistimewaan dan kelengkapan, sikap dewasa
suatu individu jika digabungkan satu sama lain akan memajukan kesejahteraan dan
kemakmuran bagi Indonesia” kata kakek lalu mencampurkan ayam kedalam bubur.
“lalu untuk apa sambal dan kerupuk pangsitnya?” tanyaku pada kakek “Indonesia
terkenal dengan ciri khas sambalnya yang pedas, ini melambangkan ciri khas
tekat dan keberanian bangsa indonesia yang luar biasa, lalu kerupuk pangsitnya
memberi arti sebagai pelengkap yaitu negara kita ini akan lebih lengkap jika
ditaburi dengan kejujuran” jawab kakek, dan dua porsi bubur ayam spesial pun
telah siap.
“dan satu lagi, walau kita sudah
membuat bubur nasi ini menjadi pengganti nasi namun kita tidak boleh lalai
lagi. Jika kita memasak nasi maka masaklah nasi, jangan samapai kita melakukan
kesalahan untuk kedua kalinya, jika kita sudah menjadikan bangsa Indonesia
lepas dari keterpurukan maka jangan sampai Indonesia kembali kedalam
keterpurukan, bubur ini hanya sebagai salah satu cara penggambaran nasionalime,
jika ini adalah nasi maka kamu akan membuat lebih dari ini semua.” Jelas kakek
Kakek benar, jika bubur aku hanya
bisa menambah bebrapa pelengkap maka bila nasi aku bisa menambahkan ikan, ayam,
dan sayur mayur tanpa menghilangkan satu bentuk pelengkap dari bubur, saat
terpuruk aku bisa bersikap bersatu, dewasa, tekat, keberanian dan kejujuran
maka setelah lepas dari keterpurukan aku bisa menambahnya dengan prestasi dan
masih banyak lagi. Aku belajar dari semangkok bubur nasi, dan aku bisa
menyampaikan ini kepada Andien dan Dony bahkan seluruh Rakyat Indonesia.
‘Jika kau dapat
mengubah kesalahan menjadi istimewa, maka jangan kau ulangi kesalahan yang sama
namun mempertahankan keistimewaan menjadi lebih’
Sabtu, 23 April 2016
Danung Danar
“Ibu....
ibu di mana ibu!” jerit Lucia dalam desakan orang-orang yang panik
menyelamatkan diri dari tembakan dan ledakan yang menggebuh-gebuh “Lucia....
lucia.... kamu dimana nak” jerit sang Ibu yang menerobos arus langkah-langkah
manusia yang ketakutan.
Seseorang
menarik Lucia dan membawanya bersembunyi dari kerumunan, mendekap erat gadis
kecil itu dalam pelukannya. Tepat pada saat itulah sebuah bom bunuh diri
kembali meledak ditenga kerumunan orang-orang, Lucia menutup telinganya dengan
kedua tangannya, tangisannya membisu ia gigit bibir mungilnya seakan tak mau
bersuara.
Setelah
beberapa lama hujanpun turun menghapus debu dan membasahi jasad yang berserakan
korban ledakan, Lucia melangkah keluar dari persembunyiannya dan melihat
keadaan yang begitu menyayat hatinya, ditatapnya orang yang menyelamatkannya
itu, seorang pemuda yang entah dari mana yang telah melindunginya.
Lucia
kembali melihat sekelilingnya dan seketika tatapannya terpanah kearah seorang
wanita yang telah terbujur kaku berlumuran darah dan air hujan, Lucia langsung
berlari kearah wanita itu “Ibuuu.....” teriak Lucia air mata dan air hujan
membasahi pipinya di genggamnya tanangan sang ibu.
Pemuda
yang menolong Luciapun membawa jasad ibu Lucia dan pergi bersama Lucia menjauh
dari tempat yang mengerikan itu.
***
Malam
yang kelam Lucia duduk menatap langit didepan gubuk tua sore hari tadi adalah
waktu terakhirnya melihat wajah sang ibu “Ayah keman mereka membawamu, ibu
telah pergi, bersama Kak Radit dan Kak Ayu, kenapa semua pergi? Lihatlah bahkan
langitpun sepi tak berbulan dan berbintang” ucap Lucia dalam Tangisnya yang
pilu memecah kesunyian dalam dinginnya malam.
Pemuda
yang menyelamatkannyapun duduk disampingnya, Lucia menatap pemuda itu dengan
mata berbinar “Terimakasih karena Kak Danung telah menyelamatkanku” kata Lucia
pada pemuda tersebut yang bernama Danung
“Sebenarnya aku minta maaf karena tidak dapat
menyelamatkan Ibumu, karena terlalu panik aku tidak sempat memperingati orang
di sekiramu. Padahal ada seseorang yang tampak jelas olehku bahwa dia akan
meledakkan dirinya” balas Danung. “itu yang dinamakan takdir, memang kakak
mungkin akan menyelamatkan mereka semua termasuk ibuku, tapi saat itu kakak
tidak dapat melakukannya, setidaknya kakak telah berjasa, dan aku
berterimakasih atas itu!” kata Lucia
Wajah
sedih Lucia mulai larut dalam canda tawa disisi Danung, setelah beberapa lama
tampak dari kejauhan ada seseorang berjalan kearah mereka, wajahnya mirip seperti Danung hanya
saja tubuhnya sedikit lebih tinggi “Danar dari mana saja kamu?” tanya Danung
pada orang itu, orang yang bernama Danar itu hanya diam dan masuk kedalam gubuk
tua disusul oleh Danung dan Lucia
“Aku
yakin bahwa mereka adalah pemberontak yang berada dibawah kendali negara lain
untuk merebut kekuasaan di negara kita!” kata Danar dengan tatapan tajam penuh
keyakinan “Jika memang benar begitu atas dasar apa?” tanya Danung, Danarpun
terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu
“Pengeboman
sudah dilakukan di 21 wilayah dinegara kita, korbannya adalah waga sipil, dan
mereka menggunakan taktik yang sangat hebat sehingga pergerakkan mereka tidak
diketahui dan selalu mendadak” jelas Danar “Kemana kita berkumpul?” tanya
Danung “SC69” jawab Danar , Danung membuka sebuah pintu rahasia menuju sebuah
lorong panjang, Danung, Danar dan Luciapun masuk kedalamnya.
***
Mereka
berhenti didepan sebuah pintu besi yang bertuliskan SC69, Danung membukanya dan
merekapun masuk kedalamnya, mereka berada didalam sebuah ruangan besar,
dindingnya dipenuhi oleh layar-layar monitor, di tengah ruangan terdapat layar
hologram, suasana yang berbeda membuat Lucia terpaku, Danung dan Danar sibuk
mengotak atik semua tombol memeriksa satu persatu rekaman pada monitor di
ruangan tersebut.
“Menurut
informasi yang aku terima pemberontak meledakkan sebuah bom di suatu wilayah,
saat semua perhatian tertuju pada wilayah tersebut mereka meledakkan bom secara
serentak diwilayah lain” kata Danar “Itu merupakan taktik mereka untuk mengalihkan
perhatian agar mereka bisa berhasil tanpa diketahui rencana mereka, pantas saja
sangat sulit untuk melacak pergerakan mereka” balas Danung
Danar
mengangguk “Kita bergerak seperti tikus tanah, memiliki terowongan dan markas
bawah tanah, tentu mudah bagi kita melacak mereka” kata Danar, “Apakah ada dari
PBB telah menangkap para permberontak?” tanya Danung “Ya tapi mereka bunuh diri
sebelum diintrogasi, semua itu hanya untuk menutupi indetitas dan rahasia
kelompok mereka!”Danar “Aku bisa gila, tiga bulan sudah semua ini berjalan,
terlalu banyak korban yang berjatuhan, apasih yang melatar belakangi semua ini”
keluh Danung.
Selama
berjam-jam mereka berada diruangan tersebut, Lucia hanya duduk manis disalah
satu kursi melihat dua pemuda itu bekerja seakan tak henti-hentinya mengotak
atik semua tombol dalam perdepatan yang tak kunjung usai.
***
Merekapun
beristirahat digubuk tua, saat fajar tiba Danung telah sibuk dengan makanan-makanan yang dipersiapkan untuk
sarapan, Lucia masih tertidur pulas, terlihat dari wajahnya seakan-akan sekian
lama ia bisa benar benar tertidur tanpa batasan waktu, karena semalaman
menemani mereka bekerja Danar dan Danung tidak tega membangunkannya.
Saat
Danung menyiapkan sarapan, Danar sanangat sibuk dengan kabel-kabel
dihadapannya, ia berusaha menyelesaikan robot mininya yang kedua puluh karena
ini robot yang terakhir, setelah
beberapa lama Danung berseru “Sarapan siap” serentak dengan Danar
“Robotku siap” dan membangunkan Lucia.
“Apa
yang siap kak?” tanya Lucia duduk diatas ranjang bambunya sembari mengusap
matanya yang masih terpejam, mata kedua pemuda itu tertuju pada Lucia, niat
mereka tak ingin membangunkannya tapi seruan mereka malah berbuat sebaliknya.
Danang tersenyum dan menghampiri gadis kecil itu, “Sarapannya sudah siap, jadi
kamu cuci muka dan tanganmu, lalu kita sarapan bersama” kata Danung
Mereka
bertiga sarapan bersama, danar masih ingat dulu dia dan Danung sarapan di gubuk
ini bersama adik mereka yang telah meninggal akibat pemberontakan itu, Lucia
kini hadir seakan pengobat rindu akan sosok sang adik, Danungpun merasakan hal
yang sama.
Setelah
sarapan Danar menyiapkan robot-robotnya kedalam rensel, “aku akan kemarkas
pusat, jadi tetaplah disini,setelah delapan hari aku akan pulang” kata Danar
“aku ikut, dan akanku ajak Lucia”balas Danung “Kau tahu, kau adalah adikku,
keluargaku satu-satunya, dan juga Lucia hal baru dalam hidupku, dan aku tidak
mau kehilangan kalian, jadi tetaplah disini” jawab Danar. Danungpun terpaksa
mengikuti kata kakaknya, dan tetap bersembunyi bersama Lucia.
Dalam
perjalanannya dihari kedua, danar mendapat serangan dari pemberontak, sebuah
peluru menembus lengan kirinya, dia berlari menyelamatkan diri, tidak jauh
darinya ada sebuah anak sungai Danar menceburkan dirinya dan akhirnya ia bisa
lolos.
Dimarkas
pusat ia menggunakan robotnya untuk menjadi mata-mata, namun karena lukanya dia
baru bisa pulang setelah hari kesepuluh, dan itu telah membuat Danung cemas ia
khawatir jikalau kakaknya tertangkap pemberontak dan ditahan apalagi sampai
dibunuh karena tindakkannya. Sampainya Danar digubuk Danung sangat marah pada
kakaknya yang tidak tepat waktu, air matanya menetes, apalagi ia melihat tangan
Danar yang terluka, ia sangat cemas dan jika apa yang ia takutkan akan terjadi.
“Maafkan
aku, lagi pula kau tak pantas menangis kaukan laki-laki” kata Danar, “Jika aku
menangis karena bersyukur akan keselamatanmu itu tidak apa-apa, aku tidak mau
jika menangis karena kehilanganmu” marah Danung, Danar mengerti kalau adiknya
sudah cukup kehilangan wajar saja jika Danung marah karena ia tidak tepat
waktu.
Setelah
Danar hampir pulih mereka pun berpindah tempat kesebuah pondok yang tidak jauh
dari gubuk mereka, disana telah ada beberpa orang yang menyambut mereka. Dari
dalam pondok keluar seorang gadis berambut coklat yang langsung membawa danang
kesebuah ruangan didalam pondok.
Gadis
itu membuka perban yang menutupi luka danar lalu memukul bahu Danar “agh,
sakit, apa-apaan sih, lenganku terluka tapi malah dipukul” ketus Danar “kau
seperti anak kecil, lagi pula yang aku pukul itu bahumu, karena ini sekian
kalinya kecerobohanmu terulang, aku yakin adikmu pasti marah” kata gadis itu
“ini bukan salahku, lagi pula tentu saja Danung marah apa lagi aku tidak tepat
waktu untuk sampai digubuk, dia bagai singa” kata Danar, gadis itu hanya
tersenyum sambil megobati lika Danar.
“Seperti
biasa lukamu cepat pulih, untung saja lenganmu yang tertembak bukan jantungmu”
kata gadis itu “kalau jantungku yang tertembak kenapa?” kenapa tanya Danar “ya
berhenti berdetaklah” kata gadis itu menghempas lengan Danar yang telah
diperban kembali dengan pelan lalu keluar dari ruangan tersebut, Danangpun
tersenyum melihat gadis itu.
Setelah
itu Danung, Danar, Lucia dan beberapa orang pergi keruangan SC69 dengan sebuah
kereta troli, sesampainya duruangan tersebut Danarpun memeriksa rekaman situasi
markas pemberontak yang sikirimkan melalui sinyal dari robotnya. Saat sedang
melihat rekaman tersebut tiba-tiba Lucia mendekati monitor itu dan ,menyentuh
layarnya yang menampilkan sesosok laki-laki yang sedang ditarik dengan tali
secara paksa
“Ayah....”kata
Lucia pelan, “ternayta anak ini adalah anak jendral”seru salah seorang dari
mereka, danungpun memperhatikan tanga Lucia terdapat gelang tembaga dengan
kotak yang sangat kecil ditengahnya. “Lucia bolehkah ku pinjam gelangmu?” kata
Danung. Lucia mengangguk dan memberikan gelangnya, ternyata terdapat chips
memori didalamnya.
Ternyata
berisikan letak dimana dokumen rahasia negara disimpan, dan juga rahasia dari
pemberontak, dilihat oleh mereka nama anggota pemberontak tersebut, alangkah
tercengangnya mereka ternyata seluruh pemberotak itu adalah orang dari negara
itu sendiri, dan ternyata ayah Lucia tertangkap setelah penyamarannya
terbongkar.
“Selama
ini aku salah, rupanya mereka tidak berada dibawah kendali negara lain
melainkan bertindak sendiri” kata Danar “ya, selama ini negara ini diperangi
oleh rakyatnya sendiri” balas Danung.
***
Televisipun
dimatikan oleh Papa “yaah Papa, kami ingin melihat kelanjutan film Danung
Danarnya” keluh Tomi “iya papa kok dimatikan televisinya” sahut Tika “tidak
perlu diteruskan, kalian tahu negara kita akan dijajah lagi” kata Papa “oleh
negara asing Pa?” tanya Tomi “bukan, tapi dengan rakyatnya sendiri” jawab Papa
“tapi kenapa” tambah Tika “ya karena
jika jiwa nasionalisme dan patriotisme telah pudar maka hal itu mungkin
akan terjadi” jawab Papa kembali, Tomi
Dan Tika mengangguk mengerti.
“Ayo
sekarang kita tidur sudah malam, besok kalian harus sekolah, jangan lupa sikat
giginya sebelum tidur” kata Papa “baik pa!” seru Tomi dan Tika. Malam ini kedua
anak kecil itu telah mengerti akan maksud Papa, dan bertekad untuk tetap
menjaga jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hahaha.. Ado- Ado Bae Disebuah ruangan diadakan rapat panitia pelaksanaan acara, Bujang juga terlibat sebagai panitia acara. Saat ini ...
-
Bubur Ayam Azan berkumandang di setiap sudut negeri, kaki-kaki melangkah berdiri di atas sajadah, bersamaan menegakkan sholat,...

